Selama lima ratus tahun Islam
menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang
tinggi (Jacques C. Reister).
Cukup beralasan jika kita menyatakan
bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri.
Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah
apa-apa (Montgomery Watt).
Peradaban berhutang besar pada Islam
(Presiden AS, Barack
Obama).
Pengantar
Pernyataan dari dua cendekiawan
Barat dan satu dari orang nomor satu Amerika Serikat ini sengaja saya kutip
sekadar ingin menunjukkan, bahwa siapapun yang jujur melihat sejarah tak akan
bisa mengelak untuk mengakui keagungan peradaban Islam pada masa lalu dan
sumbangsihnya bagi dunia, termasuk dunia Barat, yang denyutnya masih terasa
hingga hari ini. Meski banyak ditutup-tutupi, pengaruh peradaban Islam terhadap
kemajuan Barat saat ini tetaplah nyata.
Tulisan berikut tidak bermaksud
membangkitkan romantisme sejarah Islam masa lalu yang gemilang, yang memang
merupakan sebuah realitas sejarah. Kalaupun secuil gambaran masa lalu peradaban
Islam yang cemerlang sengaja ditampilkan di sini, itu tidak lain sebagai bentuk
restrospeksi sekaligus instrospeksi, yang tentu amat diperlukan oleh kaum
Muslim saat ini.
Dengan itu, kaum Muslim secara sadar
dan jujur akan mampu melihat kembali kebesaran peradaban Islam masa lalu
sekaligus potensinya untuk kembali hadir pada masa depan untuk yang kedua
kalinya. Karena itu, selain merestrospeksi keagungan peradaban Islam masa lalu,
tulisan ini juga lebih dimaksudkan sebagai upaya untuk memproyeksi sekaligus
merekontruksi kembali masa depan perabadan Islam di tengah-tengah hegemoni
perabadan Barat sekular saat ini, yang sesungguhnya mulai tampak kerapuhannya
dan makin kelihatan tanda-tanda kemundurannya.
Peradaban Islam: Peradaban Emas
1. Tingginya Kemampuan Literasi.
Sebuah peradaban maju, termasuk
peradaban Islam, tentu mencakup ruang-lingkup yang sangat luas. Kemajuan
peradaban Islam masa lalu pun demikian. Jika buku dianggap sebagai salah satu
warisan sebuah peradaban yang gilang-gemilang maka peradaban Islam menjadi
peradaban garda depan yang ditopang oleh buku.
Di samping menjadi sumber inspirasi
bagi kemajuan sebuah peradaban, buku juga menjadi ukuran sejauh mana sebuah
peradaban dipandang maju. Para khalifah Islam pada masa lalu memahami benar hal
ini. Pada abad ke-10, misalnya, di Andalusia saja terdapat 20 perpustakaan
umum. Yang terkenal di antaranya adalah Perpustakaan Umum Cordova, yang saat
itu memiliki tidak kurang dari 400 ribu judul buku. Ini termasuk jumlah yang
luar biasa untuk ukuran zaman itu.
Padahal empat abad setelahnya, dalam
catatan Chatolique Encyclopedia, Perpustakaan Gereja Canterbury saja, yang
terbilang paling lengkap pada abad ke-14, hanya miliki 1800 (1,8 ribu) judul
buku. Jumlah itu belum seberapa, apalagi jika dibandingkan dengan Perpustakaan
Darul Hikmah di Kairo yang terkenal itu, yang mengoleksi tidak kurang 2 juta judul
buku.
Perpustakaan Umum Tripoli di
Syam—yang pernah dibakar oleh Pasukan Salib Eropa—bahkan mengoleksi lebih dari
3 juta judul buku, termasuk 50 ribu eksemplar al-Quran dan tafsirnya. Di
Andalusia, pernah pula terdapat Perpustakaan al-Hakim yang menyimpan
buku-bukunya di dalam 40 ruangan. Setiap ruangan berisi tidak kurang dari 18
ribu judul buku. Artinya, perpustakaan tersebut menyimpan sekitar 720 ribu
judul buku.
Pada masa Kekhilafahan Islam yang
cukup panjang, khususnya masa Kekhalifahan ‘Abbasiyyah,
perpustakaan-perpustakaan semacam itu tersebar luas di berbagai wilayah
Kekhilafahan, antara lain: Baghdad, Ram Hurmuz, Rayy (Raghes), Merv (daerah
Khurasan), Bulkh, Bukhara (kota kelahiran Imam al-Bukhari), Ghazni, dsb. Lebih
dari itu, hal yang lazim saat itu, di setiap masjid pasti terdapat perpustakaan
yang terbuka untuk umum.
Menggambarkan hal ini, Bloom dan
Blair menyatakan, “Rata-rata tingkat kemampuan literasi (kemampuan melek huruf
membaca dan menulis Dunia Islam di abad pertengahan lebih tinggi daripada
Byzantium dan Eropa. Karya tulis ditemukan di setiap tempat dalam peradaban
ini.” (Jonathan Bloom & Sheila Blair, Islam – A Thousand Years of Faith
and Power, Yale University Press, London, 2002, p-105).
2. Lahirnya Banyak Ilmuwan Besar dan
Karya-karya Fenomenal Mereka.
Dari perpustakaan-perpustakaan
itulah dimulainya penerjemahan buku-buku, yang dilanjutkan dengan pengkajian
dan pengembangan atas isi buku-buku tersebut. Dari sini pula sesungguhnya
dimulainya kelahiran para ilmuwan dan cendekiawan Muslim yang kemudian
melahirkan karya-karya yang amat mengagumkan, yang mereka sumbangkan demi
kemajuan peradaban Islam saat itu.
Bahkan tokoh-tokoh seperti Ibn Sina
(terkenal di Barat sebagai Aveciena), Ibn Miskawaih, Asy-Syabusti dan beberapa
nama lain mengawali karirnya—sebagai cendekiawan dan ilmuwan Muslim—dari
‘profesi’-nya sebagai penjaga dan pengawas perpustakaan. Ibn Sina, misalnya,
adalah seorang pakar kedokteran. Ia meninggalkan sekitar 267 buku karyanya. Al-Qânûn
fi al-Thibb adalah bukunya yang terkenal di bidang kedokteran.
Beberapa nama lain adalah Ibn Rusyd
(terkenal di Barat sebagai Averous); seorang filosof, dokter sekaligus pakar
fikih dari Andalusia. Al-Kulliyât, salah satu bukunya yang terpenting dalam
bidang kedokteran, berisi kajian ilmiah pertama mengenai fungsi
jaringan-jaringan dalam kelopak mata.
Ada juga az-Zahrawi, kelahiran
Cordova. Ia adalah orang pertama yang mengenalkan teknik pembedahan organ tubuh
manusia. Karyanya berupa eksiklopedia pembedahan dijadikan referensi dasar dunia
kedokteran dalam bidang pembedahan selama ratusan tahun.
Sejumlah universitas Barat juga
menjadikannya sebagai acuan. Lalu ada az-Zarkalli, masih dari Cordova. Ia
adalah salah seorang ahli astronomi yang pertama kali mengenalkan astrolobe,
yakni istrumen yang digunakan untuk mengukur jarak sebuah bintang dari horison
bumi. Penemuan ini menjadi revolusioner karena dapat membantu navigasi laut
yang kemudian mendorong berkembangnya dunia pelayaran secara pesat.
Kemudian ada al-Khawarizmi, ahli
matematika sekaligus penemu angka nol dan penemu salah satu cabang ilmu
matematika, Algoritma, yang diambil dari namanya. Nama lengkapnya Abu Abdullah
Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi (770-840) lahir di Khwarizm (Kheva), kota di
selatan sungai Oxus (sekarang Uzbekistan) tahun 770 masehi. Pengaruhnya dalam
perkembangan matematika, astronomi dan geografi tidak diragukan lagi dalam
catatan sejarah.
Beberapa bukunya diterjemahkan ke
dalam bahasa Latin pada awal abad ke-12 oleh dua orang penerjemah terkemuka,
yaitu Adelard Bath dan Gerard Cremona. Risalah-risalah aritmatikanya, seperti
Kitâb al-Jam’a wa at-Tafrîq bi al-Hisâb al-Hindi, Algebra dan Al-Maqâl
fî Hisâb al-Jabr wa al-Muqâbilah hanya dikenal dari translasi berbahasa
Latin. Buku-buku itu terus dipakai hingga abad ke-16 sebagai buku pegangan
dasar oleh universitas-universitas di Eropa.
Buku geografinya berjudul Kitâb Surât
al-Ard yang memuat peta-peta dunia pun telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Inggris.
Selanjutnya ada al-Idrisi, pakar
geografi. Orang Barat menyebutnya Dreses. Al-Idris (1099-1166) dikenal oleh
orang-orang Barat sebagai seorang ahli geografi. Ia pernah membuat bola dunia
dari bahan perak seberat 400 kilogram untuk Raja Roger II dari Sicilia.
Globe buatan al-Idrisi ini secara
cermat memuat pula ketujuh benua dengan rute perdagangannya, danau-danau dan
sungai, kota-kota besar, dataran serta pegunungan. Beliau memasukkan pula
beberapa informasi tentang jarak, panjang dan ketinggian secara tepat. Bola
dunianya itu, oleh Idris sengaja dilengkapi pula dengan Kitâb ar-Rujari
(Roger’s Book).
Dialah yang pertama kali
memperkenalkan teknik pemetaan dengan metode proyeksi; suatu metode yang baru
dikembangkan oleh ilmuwan Barat, Mercator, empat abad kemudian.
Selain beliau, masih ada nama yang
patut disebut sebagai penyumbang peradaban untuk dunia. Dialah Jabir Ibn
Hayyan, masternya ilmu kimia yang diakui oleh dunia. Ide-ide eksperimen Jabir
sekarang lebih dikenal sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur
kimia, utamanya pada bahan metal, non-metal dan penguraian zat kimia.
Pada abad pertengahan karya-karya
beliau di bidang ilmu kimia—termasuk kitabnya yang masyhur, Kitâb al-Kimya
dan Kitâb as-Sab’în—sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa latin.
Terjemahan Kitâb al-Kimya bahkan telah diterbitkan oleh orang Inggris bernama
Robert Chester tahun 1444, dengan judul The Book of the Composition of
Alchemy.
Buku kedua (Kitâb as-Sab’în)
diterjemahkan juga oleh Gerard Cremona. Lalu tak ketinggalan Berthelot pun
menerjemahkan beberapa buku Jabir, yang di antaranya dikenal dengan judul
Book of Kingdom, Book of the Balances dan Book of Eastern Mercury.
Masih ada ilmuwan lainnya. Dia
adalah Nashiruddin ath-Thusi, masternya ilmu astronomi dan perbintangan. Ada Ibnu
al-Haitsam, jagoannya ilmu alam dan ilmu pasti. Beliau menulis buku berjudul Al-Manâzir
yang berisi tentang ilmu optik. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin
oleh Frederick Reysnar, dan diterbitkan di kota Pazel, Swiss, pada tahun 1572
dengan judul Opticae Thesaurus.
Ada lagi seorang ahli geografi ulung
bernama Muhammad bin Ahmad al-Maqdisi. Bukunya, Ahsan at-Taqâsim, merupakan
buku geografi yang nilai sastra Arabnya paling tinggi. Buku tersebut
menguraikan tentang semenanjung Arabia, Irak, Syam, Mesir, Maroko, Khurasan,
Armenia, Azerbaijan, Chozistan, Persia dan Karman. Kemudian ada al-Kindi.
Beliau adalah simbol kedigdayaan
ilmuwan Muslim. Jempolan dalam ilmu fisika dan filsafat. Beliau bahkan
mewariskan sekitar 256 jilid buku. Lima belas buku di antaranya khusus mengenai
meteorologi, anemologi, udara (iklim), kelautan, mata dan cahaya; juga dua buah
buku mengenai musik. Muhammad, Ahmad dan Hasan—tiga keturunan Musa Ibnu Syakir,
menyumbangkan ilmu teknik pengairan dan matematika.
Lalu mengenai dunia sejarah,
filsafat dan sosiologi, ada sang maestronya, yaitu Ibnu Khaldun. Selain mereka,
masih banyak lagi ilmuwan dan cendekiawan Muslim lainnya dengan keunggulan dan
kepakarannya di bidangnya masing-masing. Orang-orang seperti merekalah yang
kemudian memberikan banyak sekali sumbangsihnya bagi kemajuan peradaban Islam
pada masa lalu yang masih terasa denyutnya hingga kini, justru pada saat
orang-orang Eropa masih bergulat dengan masa kegelapannya yang panjang.
Tanpa kehadiran para ilmuwan dan
cendekiawan Muslim yang telah mewariskan peradaban yang sangat agung, kemajuan
peradaban Barat saat ini tidak mungkin terjadi. Sebab, merekalah sesungguhnya
yang menjadi penghubung peradaban Yunani dan Romawi dengan peradaban Eropa saat
ini. Secara jujur, hal ini diakui oleh salah seorang cendekiawan Barat sendiri,
yakni Emmanuel Deutscheu yang asal Jerman itu.
Ia mengatakan, “Semua ini (yakni
kemajuan peradaban Islam) telah memberikan kesempatan baik bagi kami untuk
mencapai kebangkitan (renaissance) dalam ilmu pengetahuan modern. Karena itu,
sewajarnyalah kami senantiasa mencucurkan airmata tatkala kami teringat akan
saat-saat jatuhnya Granada.” (Granada adalah benteng terakhir Kekhilafahan
Islam di Andalusia yang jatuh ke tangan orang-orang Eropa).
Hal senada diungkapkan oleh
Montgomery Watt, ketika ia menyatakan, “Cukup beralasan jika kita menyatakan
bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri.
Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah
apa-apa.”
Jacques C. Reister juga berkomentar,
“Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu
pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.”
Bahkan yang menarik sekaligus
mengejutkan, sumbangsih peradaban Islam terhadap dunia, termasuk dunia Barat, juga
diakui oleh Presiden Amerika Serikat saat ini, Barack Obama. Hal itu terungkap
saat dia berpidato tanggal 5 Juli 2009. Dia antara lain menyatakan:
Peradaban berhutang besar pada
Islam. Islamlah—di tempat-tempat seperti Universitas Al-Azhar—yang mengusung
lentera ilmu selama berabad-abad serta membuka jalan bagi era Kebangkitan
Kembali dan era Pencerahan di Eropa.
Inovasi dalam masyarakat Muslimlah
yang mengembangkan urutan aljabar; kompas magnet dan alat navigasi; keahlian
dalam menggunakan pena dan percetakan; dan pemahaman mengenai penularan
penyakit serta pengobatannya.
Budaya Islam telah memberi kita
gerbang-gerbang yang megah dan puncak-puncak menara yang menjunjung tinggi;
puisi-puisi yang tak lekang oleh waktu dan musik yang dihargai; kaligrafi yang
anggun dan tempat-tempat untuk melakukan kontemplasi secara damai. Sepanjang
sejarah, Islam telah menunjukkan melalui kata-kata dan perbuatan bahwa
toleransi beragama dan persamaan ras adalah hal-hal yang mungkin (http://jakarta.usembassy.gov.).