Senin, 24 Maret 2014

Kejayaan Islam di Masa Lalu



Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi (Jacques C. Reister).
Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa (Montgomery Watt).
Peradaban berhutang besar pada Islam (Presiden AS, Barack Obama).
Pengantar
Pernyataan dari dua cendekiawan Barat dan satu dari orang nomor satu Amerika Serikat ini sengaja saya kutip sekadar ingin menunjukkan, bahwa siapapun yang jujur melihat sejarah tak akan bisa mengelak untuk mengakui keagungan peradaban Islam pada masa lalu dan sumbangsihnya bagi dunia, termasuk dunia Barat, yang denyutnya masih terasa hingga hari ini. Meski banyak ditutup-tutupi, pengaruh peradaban Islam terhadap kemajuan Barat saat ini tetaplah nyata.
Tulisan berikut tidak bermaksud membangkitkan romantisme sejarah Islam masa lalu yang gemilang, yang memang merupakan sebuah realitas sejarah. Kalaupun secuil gambaran masa lalu peradaban Islam yang cemerlang sengaja ditampilkan di sini, itu tidak lain sebagai bentuk restrospeksi sekaligus instrospeksi, yang tentu amat diperlukan oleh kaum Muslim saat ini.
Dengan itu, kaum Muslim secara sadar dan jujur akan mampu melihat kembali kebesaran peradaban Islam masa lalu sekaligus potensinya untuk kembali hadir pada masa depan untuk yang kedua kalinya. Karena itu, selain merestrospeksi keagungan peradaban Islam masa lalu, tulisan ini juga lebih dimaksudkan sebagai upaya untuk memproyeksi sekaligus merekontruksi kembali masa depan perabadan Islam di tengah-tengah hegemoni perabadan Barat sekular saat ini, yang sesungguhnya mulai tampak kerapuhannya dan makin kelihatan tanda-tanda kemundurannya.
Peradaban Islam: Peradaban Emas
1. Tingginya Kemampuan Literasi.
Sebuah peradaban maju, termasuk peradaban Islam, tentu mencakup ruang-lingkup yang sangat luas. Kemajuan peradaban Islam masa lalu pun demikian. Jika buku dianggap sebagai salah satu warisan sebuah peradaban yang gilang-gemilang maka peradaban Islam menjadi peradaban garda depan yang ditopang oleh buku.
Di samping menjadi sumber inspirasi bagi kemajuan sebuah peradaban, buku juga menjadi ukuran sejauh mana sebuah peradaban dipandang maju. Para khalifah Islam pada masa lalu memahami benar hal ini. Pada abad ke-10, misalnya, di Andalusia saja terdapat 20 perpustakaan umum. Yang terkenal di antaranya adalah Perpustakaan Umum Cordova, yang saat itu memiliki tidak kurang dari 400 ribu judul buku. Ini termasuk jumlah yang luar biasa untuk ukuran zaman itu.
Padahal empat abad setelahnya, dalam catatan Chatolique Encyclopedia, Perpustakaan Gereja Canterbury saja, yang terbilang paling lengkap pada abad ke-14, hanya miliki 1800 (1,8 ribu) judul buku. Jumlah itu belum seberapa, apalagi jika dibandingkan dengan Perpustakaan Darul Hikmah di Kairo yang terkenal itu, yang mengoleksi tidak kurang 2 juta judul buku.
Perpustakaan Umum Tripoli di Syam—yang pernah dibakar oleh Pasukan Salib Eropa—bahkan mengoleksi lebih dari 3 juta judul buku, termasuk 50 ribu eksemplar al-Quran dan tafsirnya. Di Andalusia, pernah pula terdapat Perpustakaan al-Hakim yang menyimpan buku-bukunya di dalam 40 ruangan. Setiap ruangan berisi tidak kurang dari 18 ribu judul buku. Artinya, perpustakaan tersebut menyimpan sekitar 720 ribu judul buku.
Pada masa Kekhilafahan Islam yang cukup panjang, khususnya masa Kekhalifahan ‘Abbasiyyah, perpustakaan-perpustakaan semacam itu tersebar luas di berbagai wilayah Kekhilafahan, antara lain: Baghdad, Ram Hurmuz, Rayy (Raghes), Merv (daerah Khurasan), Bulkh, Bukhara (kota kelahiran Imam al-Bukhari), Ghazni, dsb. Lebih dari itu, hal yang lazim saat itu, di setiap masjid pasti terdapat perpustakaan yang terbuka untuk umum.
Menggambarkan hal ini, Bloom dan Blair menyatakan, “Rata-rata tingkat kemampuan literasi (kemampuan melek huruf membaca dan menulis Dunia Islam di abad pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa. Karya tulis ditemukan di setiap tempat dalam peradaban ini.” (Jonathan Bloom & Sheila Blair, Islam – A Thousand Years of Faith and Power, Yale University Press, London, 2002, p-105).
2. Lahirnya Banyak Ilmuwan Besar dan Karya-karya Fenomenal Mereka.
Dari perpustakaan-perpustakaan itulah dimulainya penerjemahan buku-buku, yang dilanjutkan dengan pengkajian dan pengembangan atas isi buku-buku tersebut. Dari sini pula sesungguhnya dimulainya kelahiran para ilmuwan dan cendekiawan Muslim yang kemudian melahirkan karya-karya yang amat mengagumkan, yang mereka sumbangkan demi kemajuan peradaban Islam saat itu.
Bahkan tokoh-tokoh seperti Ibn Sina (terkenal di Barat sebagai Aveciena), Ibn Miskawaih, Asy-Syabusti dan beberapa nama lain mengawali karirnya—sebagai cendekiawan dan ilmuwan Muslim—dari ‘profesi’-nya sebagai penjaga dan pengawas perpustakaan. Ibn Sina, misalnya, adalah seorang pakar kedokteran. Ia meninggalkan sekitar 267 buku karyanya. Al-Qânûn fi al-Thibb adalah bukunya yang terkenal di bidang kedokteran.
Beberapa nama lain adalah Ibn Rusyd (terkenal di Barat sebagai Averous); seorang filosof, dokter sekaligus pakar fikih dari Andalusia. Al-Kulliyât, salah satu bukunya yang terpenting dalam bidang kedokteran, berisi kajian ilmiah pertama mengenai fungsi jaringan-jaringan dalam kelopak mata.
Ada juga az-Zahrawi, kelahiran Cordova. Ia adalah orang pertama yang mengenalkan teknik pembedahan organ tubuh manusia. Karyanya berupa eksiklopedia pembedahan dijadikan referensi dasar dunia kedokteran dalam bidang pembedahan selama ratusan tahun.
Sejumlah universitas Barat juga menjadikannya sebagai acuan. Lalu ada az-Zarkalli, masih dari Cordova. Ia adalah salah seorang ahli astronomi yang pertama kali mengenalkan astrolobe, yakni istrumen yang digunakan untuk mengukur jarak sebuah bintang dari horison bumi. Penemuan ini menjadi revolusioner karena dapat membantu navigasi laut yang kemudian mendorong berkembangnya dunia pelayaran secara pesat.
Kemudian ada al-Khawarizmi, ahli matematika sekaligus penemu angka nol dan penemu salah satu cabang ilmu matematika, Algoritma, yang diambil dari namanya. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi (770-840) lahir di Khwarizm (Kheva), kota di selatan sungai Oxus (sekarang Uzbekistan) tahun 770 masehi. Pengaruhnya dalam perkembangan matematika, astronomi dan geografi tidak diragukan lagi dalam catatan sejarah.
Beberapa bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada awal abad ke-12 oleh dua orang penerjemah terkemuka, yaitu Adelard Bath dan Gerard Cremona. Risalah-risalah aritmatikanya, seperti Kitâb al-Jam’a wa at-Tafrîq bi al-Hisâb al-Hindi, Algebra dan Al-Maqâl fî Hisâb al-Jabr wa al-Muqâbilah hanya dikenal dari translasi berbahasa Latin. Buku-buku itu terus dipakai hingga abad ke-16 sebagai buku pegangan dasar oleh universitas-universitas di Eropa.
Buku geografinya berjudul Kitâb Surât al-Ard yang memuat peta-peta dunia pun telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Selanjutnya ada al-Idrisi, pakar geografi. Orang Barat menyebutnya Dreses. Al-Idris (1099-1166) dikenal oleh orang-orang Barat sebagai seorang ahli geografi. Ia pernah membuat bola dunia dari bahan perak seberat 400 kilogram untuk Raja Roger II dari Sicilia.
Globe buatan al-Idrisi ini secara cermat memuat pula ketujuh benua dengan rute perdagangannya, danau-danau dan sungai, kota-kota besar, dataran serta pegunungan. Beliau memasukkan pula beberapa informasi tentang jarak, panjang dan ketinggian secara tepat. Bola dunianya itu, oleh Idris sengaja dilengkapi pula dengan Kitâb ar-Rujari (Roger’s Book).
Dialah yang pertama kali memperkenalkan teknik pemetaan dengan metode proyeksi; suatu metode yang baru dikembangkan oleh ilmuwan Barat, Mercator, empat abad kemudian.
Selain beliau, masih ada nama yang patut disebut sebagai penyumbang peradaban untuk dunia. Dialah Jabir Ibn Hayyan, masternya ilmu kimia yang diakui oleh dunia. Ide-ide eksperimen Jabir sekarang lebih dikenal sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, non-metal dan penguraian zat kimia.
Pada abad pertengahan karya-karya beliau di bidang ilmu kimia—termasuk kitabnya yang masyhur, Kitâb al-Kimya dan Kitâb as-Sab’în—sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa latin. Terjemahan Kitâb al-Kimya bahkan telah diterbitkan oleh orang Inggris bernama Robert Chester tahun 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy.
Buku kedua (Kitâb as-Sab’în) diterjemahkan juga oleh Gerard Cremona. Lalu tak ketinggalan Berthelot pun menerjemahkan beberapa buku Jabir, yang di antaranya dikenal dengan judul Book of Kingdom, Book of the Balances dan Book of Eastern Mercury.
Masih ada ilmuwan lainnya. Dia adalah Nashiruddin ath-Thusi, masternya ilmu astronomi dan perbintangan. Ada Ibnu al-Haitsam, jagoannya ilmu alam dan ilmu pasti. Beliau menulis buku berjudul Al-Manâzir yang berisi tentang ilmu optik. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Frederick Reysnar, dan diterbitkan di kota Pazel, Swiss, pada tahun 1572 dengan judul Opticae Thesaurus.
Ada lagi seorang ahli geografi ulung bernama Muhammad bin Ahmad al-Maqdisi. Bukunya, Ahsan at-Taqâsim, merupakan buku geografi yang nilai sastra Arabnya paling tinggi. Buku tersebut menguraikan tentang semenanjung Arabia, Irak, Syam, Mesir, Maroko, Khurasan, Armenia, Azerbaijan, Chozistan, Persia dan Karman. Kemudian ada al-Kindi.
Beliau adalah simbol kedigdayaan ilmuwan Muslim. Jempolan dalam ilmu fisika dan filsafat. Beliau bahkan mewariskan sekitar 256 jilid buku. Lima belas buku di antaranya khusus mengenai meteorologi, anemologi, udara (iklim), kelautan, mata dan cahaya; juga dua buah buku mengenai musik. Muhammad, Ahmad dan Hasan—tiga keturunan Musa Ibnu Syakir, menyumbangkan ilmu teknik pengairan dan matematika.
Lalu mengenai dunia sejarah, filsafat dan sosiologi, ada sang maestronya, yaitu Ibnu Khaldun. Selain mereka, masih banyak lagi ilmuwan dan cendekiawan Muslim lainnya dengan keunggulan dan kepakarannya di bidangnya masing-masing. Orang-orang seperti merekalah yang kemudian memberikan banyak sekali sumbangsihnya bagi kemajuan peradaban Islam pada masa lalu yang masih terasa denyutnya hingga kini, justru pada saat orang-orang Eropa masih bergulat dengan masa kegelapannya yang panjang.
Tanpa kehadiran para ilmuwan dan cendekiawan Muslim yang telah mewariskan peradaban yang sangat agung, kemajuan peradaban Barat saat ini tidak mungkin terjadi. Sebab, merekalah sesungguhnya yang menjadi penghubung peradaban Yunani dan Romawi dengan peradaban Eropa saat ini. Secara jujur, hal ini diakui oleh salah seorang cendekiawan Barat sendiri, yakni Emmanuel Deutscheu yang asal Jerman itu.
Ia mengatakan, “Semua ini (yakni kemajuan peradaban Islam) telah memberikan kesempatan baik bagi kami untuk mencapai kebangkitan (renaissance) dalam ilmu pengetahuan modern. Karena itu, sewajarnyalah kami senantiasa mencucurkan airmata tatkala kami teringat akan saat-saat jatuhnya Granada.” (Granada adalah benteng terakhir Kekhilafahan Islam di Andalusia yang jatuh ke tangan orang-orang Eropa).
Hal senada diungkapkan oleh Montgomery Watt, ketika ia menyatakan, “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.”
Jacques C. Reister juga berkomentar, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.”
Bahkan yang menarik sekaligus mengejutkan, sumbangsih peradaban Islam terhadap dunia, termasuk dunia Barat, juga diakui oleh Presiden Amerika Serikat saat ini, Barack Obama. Hal itu terungkap saat dia berpidato tanggal 5 Juli 2009. Dia antara lain menyatakan:
Peradaban berhutang besar pada Islam. Islamlah—di tempat-tempat seperti Universitas Al-Azhar—yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad serta membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa.
Inovasi dalam masyarakat Muslimlah yang mengembangkan urutan aljabar; kompas magnet dan alat navigasi; keahlian dalam menggunakan pena dan percetakan; dan pemahaman mengenai penularan penyakit serta pengobatannya.
Budaya Islam telah memberi kita gerbang-gerbang yang megah dan puncak-puncak menara yang menjunjung tinggi; puisi-puisi yang tak lekang oleh waktu dan musik yang dihargai; kaligrafi yang anggun dan tempat-tempat untuk melakukan kontemplasi secara damai. Sepanjang sejarah, Islam telah menunjukkan melalui kata-kata dan perbuatan bahwa toleransi beragama dan persamaan ras adalah hal-hal yang mungkin (http://jakarta.usembassy.gov.).

Jumat, 01 Juni 2012

Penampilan Marawis SMKN 3 Kota Bekasi di Gedung Cevest Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2012






Sabtu, 21 April 2012

Visi dan Misi Rohis Nuril Qolby

Visi dan Misi Rohis Nuril Qolby SMKN 3 Kota Bekasi

Visi  : 

Ahli, Prestasi, dan berpegang pada nilai islami


Misi  :

1. Membina skill dalam Seni Islam

2. Membina Kemampuan Keorganisasian

3. Menyiapkan Potensi Islam dalam meraih Prestasi

4. Membangun Karakter Islam

Senin, 09 April 2012

Senyum Seekor Kucing Ketika Diberi Daging

Assalamualaikum wr,wb
Pada kesempatan kali ini kami selaku dari pengurus Rohis Nuril Qolby mengepost artikel-artikel yang mudah-mudahan bermanfaat . :D

Di hari yang panas, disebuah kantin yang sederhana berukuran 4x5 namun dengan kursi panjang dan meja. hari-harinya ramai oleh setiap siswa yang hendak berbelanja atau sekedar bercanda.
selain siswa, guru-guru pun ikut serta sambil membawa piring dan sendok diambilnya makanan yang telah tersedia. ya begitulah kantin sekolahku, sederhana namun membawa berkah bagi berkelanjutnya hidup bagi manusia bumi. namun ada yang istimewa di kantin ini banyak kucing yang seolah - olah ikut mengambilberkah Illahi. walau ada yang membenci, namun tak jarang ada yang memberi. kucing pun seolah mengerti, ia harus sudah beradaptasi di lingkungannya sendiri. ketika ia merasa dibenci dengan rasa kecewa ia pergi, namun ketika diberi ia sadar kalu ia diterima disini. kucing pun mulai menyeleksi mana pembenci yang tak segan melempar sapu, botol, bahkan tak jarang memukul dan melempar dengan bangku, bak pendemo yang seolah tak dihargai.
namun kucing pun ada yang tersenyum ketika diberi daging sambil dielus kepalanya bak pengantin baru, sambil diberi ikan disediakan dipiring bagai tamu di restoran seperti raja yang dilayani permaisurinya.
gambaran yang begitu jelas ditemui dalam setiap sudut kehidupan tanpa mengenal status, tempat, dan waktu. selalu terulang walau dalam scenario berbeda, namun esensi atau pokok selalu tetaplah sama. dari pengalaman sederhana, kita bisa petik hikmah kehidupan yang luas dari pengalaman sederhana, kita temui mutiara yang menjadi kilauan sanubari. seekor binatang yang diberi akal budi pun mengerti makna kehidupan yang mesti dijalaninya, yang tak selalu sejalan dengan keinginannya. ingin diberi, namun faktanya beda yang harus menerima pukulan dan lemparan. lalu bagaimana jika ditarik ke kehidupan manusia yang memiliki tingkat kemuliaan lebih dari binatang. karena Allah karuniakan akal pikiran.
tentu pengalaman kucing bisalah jadi pengalaman berharga. sebagaimana kehidupan ini tidak selalu mulus sesuai dengan keinginan. tentu ada masa ia pun harus merasakan apa yang dirasakan sang kucing merasa jadi orang yang terusir. namun pada posisi seperti ini, manusia sering salah memahaminya tidak seperti kucing yang berani kembali untuk mendapatkan haknya dari kehidupan. manusia yang diberi akal, sering kali pergi berlalu dan merasa ialah orang yang paling dianiaya oleh kehidupan sehingga ia begitu putus asa dan menganggap Allah tidak adil memperlakukannya. dilain pihak, ada manusia yang diperlakukan seperti kucing yang diperlakukan bagai raja. berbeda dengan sang kucing, yang tersenyum dan mengatakan inilah hak saya dari kehidupan. yang saya dapat hari ini dan mengucapkan terimakasih pada yang member hidup. manusia yang diperlakukan seperti raja, mengatakan inilah usahaku aku sendiri yang bekerja keras untuk ini jadi aku berhak untuk mendapatkannya, jika orang lain mau iapun harus seperti aku, hanya itu jalan satu-satunya.
ia merasa jadi orang yang paling beruntung dan paling tahu cara memperoleh keberuntungan. dan ia mendapat keberuntungan itu untuk terus menambah dan menambah tanpa mau peduli yang menjadi hak Allah baginya. ternyata kucing lebih mampu menyikapi kehidupannya dibanding manusia seperti ini, ia lupa akan yang telah diberi kepadanya dan ketika ia tidak diberi ia menyalahkan kehidupan yang begitu kejam kepadanya. inilah ciri orang yang apabila ia memperoleh kesulitan ia putus asa. apabila ia diberi nikmat ia kufur dengan nikmat tersebut.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita orang yang seperti itu? Tak perlu dijawab, cukuplah intropeksi diri.
Lalu bagaimana mengembalikan kemuliaan manusia agar tidak lebih rendah dari seekor kucing?
Jawabnya ada pada tuntunan mulia petunjuk luhur yang dibawa oleh makhluk yang paling luhur yakni Syaidina Muhammad SAW. Beliau pernah berpesan pada sahabatnya dengan perkataan indahnya yakni :
“Taukah kalian manusia ajaib? Sahabat mengatakan hanya Allah dan Rasulnya yang tahu. Manusia ajaib adalah manusia yang tak pernah rugi yakni jika ia diberi nikmat ia bersyukur, syukur jadi kebaikan. Dan jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar maka sabar jadi kebaikan.
Jadi, yang menjadi kata kunci dari memaknai kehidupan hanyalah dua kata. Kata “Syukur” dan “Sabar”. Mengingat dengan kemajuan dan perkembangan zaman, orang sering dihadapkan dengan berbagai macam permasalahan. Ada yang menyangkut masalah harta, kendaraan, anak, dan istri. Namun permasalahan-permasalahan tersebut hanya bisa disikapi dengan penuh kesabaran dan rasa bersyukur.
Sabar memang sering ringan diucapkan, namun amat berat jika sudah dalam pelaksanaan. Ketika seorang dihadapkan dengan masalah, orang lain sering mengatakan bersabarlah. Namun yang mempunyai masalah terkadang begitu berat untuk melakukan.

Lalu pertanyaannya sekarang, apa sebenarnya sabar itu? Kalau kita sedang mengerjakan tugas sekolah, teman-teman kita mengerjakan soal hanya sebatas kemampuannya maka kita mengerjakan sedikit lebih dari kemampuan kita. Dari contoh tersebut, bisa kita ambil makna sabar adalah bertahan sedikit lebih lama daripada kemampuan. Contoh lain yakni, seandainya teman-teman kita belajar 2 jam dalam setiap hari, maka orang yang sabar belajar 2 jam 1 menit setiap hari. Ini sudah termasuk dalam kategori orang itu bersabar, karena kemampuannya hanya sebatas 2 jam tetapi ia mau 1 menit mengusahakan lebih lama. Yang dipahami dari sabar yang banyak orang di masa sekarang adalah kepasrahan terhadap apa yang menimpanya atau lebih tepat ketidakberdayaan terhadap suatu masalah. Konsep ini tentu tidak sejalan dengan pernyataan bahwa didalam kesulitan terdapat dua jalan kemudahan. Jadi sekali lagi bahwa sabar yang benar adalah kemampuan untuk terus bertahan lebih lama daripada kesanggupan, semoga kita dijadikan orang yang bersabar dalam menjalani kehidupan.

Kata kunci yang kedua adalah syukur yang merupakan wujud terimakasih kepada pemberi kenikmatan. Seringkali syukur ini dicontohkan oleh rasul melalui riwayatnya. Yakni : ketika Rasul bersama istrinya Siti Aisyah dimalam hari, Siti Aisyah mendapati Rasul sedang melaksanakan Shalat malam. Siti Aisyah sedang melihat Rasul Shalat, kemudian Siti Aisyah tidur dan beberapa jam kemudian, Siti Aisyah terbangun ia masih Rasul sedang Shalat. Kemudian Siti Aisyah tidur kembali sampai  sebelum Shubuh, Siti Aisyah terbangun dilihatnya Rasul masih Shalat. Kemudian Siti Aisyah bangun didapatinya kaki Rasullullah membengkak, maka Siti Aisyah mengatakan kepada Rasul kenapa engkau melakukan hal seperti ini, bukankah engkau adalah orang yang dicintai oleh Allah. Dan bukankah engkau dijamin masuk surga, bukankah engkau sudah terbebas dari dosa bahkan engkau yang akan membuka pintu surga. Namun kenapa engkau melakukan ibadah sedemikian seperti ini? Jawab Rasullullah dengan indah mengatakan. Apakah aku tidak boleh menjadi hamba Allah yang bersyukur?

Dari riwayatnya ini dapat dipahami makna yang mendalam dari kalimat Syukur, tidak hanya meyakini bahwa pemberi nikmat adalah Allah tidak hanya sekedar mengucap kalimat syukur. Namun lebih dari itu semua dicontohkan bahwa syukur yang sesungguhnya adalah menggunakan nikmat yang diberikan sesuai dengan keinginan pemberinya. Maka pantaslah jika orang yang bersyukur akan terus ditambahkan nikmat baginya dan orang yang kufur, akan celaka karena kesombongannya.

Dari sini kita dapat ambil pelajaran bahwa orang yang cerdas tidak hanya belajar dari manusia saja, namun ia belajar dari apa yang ia lihat dan ia dengar serta ia rasakan. Karena ketiga alat inilah yang menjadi ujung tombak bagi akal untuk memahami.

Yang kedua, bahwa kehidupan merupakan ladang yang luas untuk terus kita tanam dan kita pupuk guna mencari hikmah-hikmah kehidupan.

Yang ketiga, bahwa kunci dari kehidupan ini adalah bagaimana kita bisa menjalani kehidupan dengan sabar dan penuh rasa syukur agar kita menjadi orang yang beruntung.
Dan yang terakhir semua itu bisa terwujud manakala kita mampu untuk terus mendalami dan melatih diri kita mengikuti ajaran luhur Rasullullah SAW.


Cukup sekian artikel yang kami buat ini semoga bermanfaat bagi semua ,

wassalamualaikum wr.wb